Bank Indonesia Akan bangun Pabrik Mikroba di Sembalun dan Sumbawa

Mataram (Suara NTB) – Bank Indonesia akan membngun pabrik mikroba di Sembalun dan Sumbawa. Tujuannya untuk mendukung kebutuhan petani mengembangkan bawang putih dan jagung organik. Seperti diketahui, Bank Indonesia belakangan ini intens mengawal petani Sembalun, Lombok Timur mengembangkan bawang putih dengan cara penanaman organik. Bank Indonesia bahkan melibatkan Dr. Nugroho, salah satu dosen pascasarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM). Total luas lahan pertanian bawang putih yang dikembangkan bersama petani 5,5 hektar. Bawang putih hasil produksi petani, sepenuhnya untuk kebutuhan perbenihan. Mengingat, Sembalun telah ditetapkan sebagai sentra benih bawang putih nasional oleh Kementerian Pertanian RI. Hasil budidaya benih bawang putih di Sembalun telah dikembangkan hingga F3 (turunan ke-3). Seperti yang ditunjukkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Achris Sarwani, F3 benih bawang putih yang dikembangkan berumbi lebih besar dari biasanya. Pengembangan bawang putih di Sembalun murni menggunakan organic. Tidak diperkenankan penggunaan pupuk kimia. Petani diajarkan untuk memanfaatkan limbah-limbah yang ada sebagai pupuk. Misalnya limbah kotoran ternak.

Untuk mempercepat reaksi limbah dengan mikroba. Mikroorganisme atau mikroba seperti diketahui adalah organisme mikroskopik yang sebagian besar berupa satu sel yang terlalu kecil untuk dapat dilihat menggunakan mata telanjang. Mikroba berukuran sekitar seperseribu milimeter (1 mikrometer) ‘atau bahkan kurang, walaupun ada juga yang lebih besar dari 5 mikrometer. Karenanya, mikroba hanya bisa dilihat dengan menggunakan alat bantu berupa mikroskop. “Sementara ini, mikroba dalam bentuk cair. Masih didatangkan dari Jawa,” kata Achris. Pendampingan oleh Bank Indonesia dilakukän maksimal 4 tahun. Tahun ini adalah tahun ke empat. Karena itu, agar pola pertanian organik ini berkelanjutan. Bank Indonesia akan membuat   pabrik mikroba di Sembalun. Harapannya agar petani tak kesulitan mengembangkan bawang putih sembalun. “Di Sumbawa juga akan kita buat pabrik mikroba. Agar memudahkan petani jagung mengembangkan jagung organik,” jelas Achris. Bawang putih Sembalun dipilih didampingi,

Kata Achris maksudnya untuk menjaga bawang putih varietas Sangga Sembalun punah. Bank Indonesia juga mendorong kembalinya kejayaan bawang putih Sembalun. Demikian juga jagung sebagai komoditas unggulan. Bawang putih organik yang dihasilkan petani, selain berumbi lebih besar, masa tanamnya juga lebih cepat. Bisa bertahan hingga 9 bulan. Bawang menggunakan pupuk kimia, saat enam bulan sudah mulai menyusut. “Kelebihan lainnya, dari penanaman, dipanen, dan ditanam lagi, sudah lebih cepat. Hanya 3 bulan. Biasanya harus ditunggu dulu lebih 6 bulan,” imbuhnya. Karena itu, Bank Indonesia dan petani menargetkan turunan benih selanjutnya dengan umbi yang lebih besar akan mampu mencapai produksi 25 ton/hektar. saat ini telah berhasil ditingkatkan menjadi 16 ton dengan cara organik. Biasanya petani hanya mampu mencapai produksi maksimal 11 ton/hektar untuk non organik. (bul)

 

Sumber : Suara NTB, 3 Agustus 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »