PPN AWANG JADI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA

PRAYA-Pemkab Lombok Tengah (Loteng), mulai menyiapkan rencana perluasan lahan pelabuhan perikanan nusantara (PPN) Teluk Awang di Desa Mertak, Pujut. Dari rencana awal 15 hektare (ha), bertambah menjadi 20 ha. Sementara yang sudah klir, baru 9 ha saja.

“Langkah itu kita lakukan, karena kita ingin meningkatkan status pelabuhan yang dimaksud,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Loteng Muhamad Kamrin, kemarin (13/7).

Harapannya, kata Kamrin pelabuhan yang berdiri di ujung selatan Gumi Tatas Tuhu Trasna tersebut, berubah menjadi Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS). Syarat perubahannya, harus menyiapkan lahan minimal 20 ha. Itu artinya, Pemkab tinggal mencari 11 ha saja. “Insya Allah, tahun ini kita mulai bergerak,” katanya.

Ia melihat, secara geografis lahan di PPN Teluk Awang masih luas, tidak perlu lagi direklamasi. Tinggal, menyesuaikan master plan pembangunannya, dengan kondisi lahan. Perluasan juga, tidak akan mengganggu pemukiman warga. Kecuali, sejumlah perbukitan dan pengunungan. Sehingga, jika diukur bisa melebihi 20 ha.

Itu artinya, menurut Kamrin Pemkab sudah memiliki perencanaan kuat, untuk diajukan ke pusat dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dengan begitu, pusat kembali menggelontorkan anggaran besar-besaran, guna peningkatan status pelabuhan tersebut. Tentu, melebihi anggaran perencanaan awal sebesar Rp 250 miliar lebih.

“Selama dua tahun terakhir ini, kita tidak mendapatkan anggaran apa-apa. Penyebabnya, karena moratorium,” kata mantan Kabid Pengelolaan Perikanan Budidaya DKP tersebut.

Total anggaran yang sudah dikucurkan pusat, beber Kamrin sebesar Rp 86 miliar lebih. Terakhir, dikucurkan pada tahun 2015 lalu sebesar Rp 44,3 miliar lebih.  Tahun 2016 lalu dan tahun ini kosong. “Mudah-mudahan tahun 2018 mendatang, moratorium dicabut,” katanya.

Sembari menutupi kekosongan pembangunan, tambah Kamrin aktivitas bongkar muat tetap berjalan. Para nelayan memanfaatkan dermaga, tempat pelelangan ikan (TPI) dan pabrik pengolahan es batu, serta fasilitas pendukung lainnya. Geliat ekonomi nelayan pun mulai nampak.

“Selama pelabuhan ini berdiri, kami bersyukur sebagian warga memiliki aktivitas lain. Mereka diterima bekerja,” cetus Waknapisa, Kepala Dusun (Kadus) Awang Balak Desa Mertak, terpisah.(dss/r2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »