Kompensasi Nelayan Lobster Membuahkan Hasil

Harga Melambung Warga Butuh Tempat Jemur

SELONG-Panen perdana budidaya rumput laut di Desa Seriwe Lombok Timur (Lotim) kemarin (28/12) telah digelar. Bagian dari pogram kompensasi bagi nelayan penangkap lobster ini dinilai sukses. Karena, selain hasil panen yang melimpah harga jual rumput laut saat ini juga tengah melonjak. Untuk itu, Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebijakto kemarin (28/12) hadir langsung meninjau panen rumput laut ini “Di Lotim kami dapat 207 Rumah Tangga Perikanan yang dapat bantuan program ini. Alhamdulillah semuanya bisa dikatakan sukses,” beber Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lotim MT asywirudin  Budidaya rumput laut dikatakan Tasywirudin paling sukses dibanding program budidaya lainnya.

Misalnya seperti program kompensasi budidaya ikan bawal bintang, ikan kerapu, ataupun ikan bandeng di air tawar Dimana, untuk jenis program yang lain, beberapa harus ditinjau ulang lokasi perairannya karena hasilnya kurang maksimal Namun khusus untuk program budidaya rumput laut semua dikatakan sukses.

Mulai di wilayah Teluk Ekas, Teluk Awang, Batu Nampar, Batu Nampar Selatan hingga di Seriwe. “Hanya saja yang jadi kendala warga saat ini butuh tempat penjemuran yang lebih luas,” beber Tasywirudin Sedangkan kondisi saat ini rumput laut sangat bagus, dengan kualitas yang masuk kategori mutu baik. Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebijakto mengaku bersyukur dengan suksesnya program kompensasi rumput laut ini. Terlebih harga saat ini juga tinggi akibat permin taan dari luar negeri meningkat. Diungkapkannya, permintaan rumput laut dari China dan Filipina tahun lalu mengalami penurunan. Sehingga sepanjang tahun 2016 harga anjlok hingga awal tahun 2017. “Tapi saat ini permintaan mulai bertambah yang berimbas pada kenaikan harga di akhir tahun. Kami berharap harga ini tetap bagus seperti ini,” ujar Slamet. Dengan harga yang tinggi, ia meminta masyarakat pembudidaya mengelola rumput laut dengan cara yang benar. Menaga kualitas rumput laut dengan tidak memanennya sebelum 40 hari. Meskipun ada permintaan dari pengepul yang tinggi. “Panen rumput laut di NTB sudah 200 ribu ton. Itu baru 30 persen,” cetusnya. Kepada Balai Budidaya Laut Sekotong Slamet juga mengucapkan terima kasihnya. Namun ia meminta mereka segera mulai menyebarkan bibit rumput laut kultur jaringan. “Bibit yang semula bukan kultur jaringan harus diganti,” pintanya. Agar rumput laut yang diproduksi masyarakat NTB tetap memiliki kualitas dan mutu yang baik. “Botol plastik juga mesti diganti dengan menggunakan bola pelampung yang sesuai standar. Karena pengelolaan rumput laut ini harus tertata rapi dan menghilangkan kesan kumuh. Mengingat Lombok menjadi daerah wisata yang ada di NTB, ujarnya.”Area penjemuran dan penggantian botol plastik ini akan menjadi perhatian kami ke depan,” janjinya. Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Perikanan Budidaya bersama Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lotim juga menyempatkan diri memanen rumput laut warga. (ton/r2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »