DARI PINDANG, GARAM, HINGGA TERASI.

Mataram (Suara NTB) Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB tahun 2019 ini merencanakan sejumlah program untuk memperkuat industrialisasi yang dicanangkan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur, Dr. Zulkieflimansyah dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah. Sektor kelautan dan perikanan adalah sektor unggulan di NTB, Sebagai salah satu provinsi kepulauan di Indonesia, luas laut NTB adalah 29.159 km2, bentang\pantai sepanjang 2.333 km dan jumlah pulau – pulau kecil sebanyak 278 buah yang sangat potensial untuk pengembangan usaha penangkapan ikan, budidaya perikanan, energi kelautan dan jasa-jasa lingkungan kelautan.

Atas dasar hal ini maka, kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Ir. L. Hamdi, M.Si, pembangunan kelautan dan perikanan diarahkan pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat perikanan dan kelautan melalui pemanfaatan sumberdaya yang kita miliki secara optimal dan lestari, peningkatan kualitas dan nilai tambah produk, serta diharapkan meningkatkan kontribusi sektor kelautan dan perikanan dalam pembangunan daerah dan nasional Ada lima program perioritas dari hulu ke hilir yang direncanakan dilaksanakan tahun ini. Diantaranya untuk hilirisasi yakni pemanfaatan bahan baku mentah perikanan tangkap menjadi produk perikanan. Sebanyak 10 Unit Pengolahan Ikan (UPI) akan dihidupkan. Ditambah 1 UPI yang didukung penuh oleh FAO (Food and Agriculture Organization).

“1 UPI yang jadi pilot project di Lombok Utara, didukung penuh oleh FAO. Setelahnya akan kita kembangkan 10 UPI lainnya di NTB, kata kepala dinas. Sarana prasarana UPI didukung penuh. Ikan-ikan hasil tangkapan dilakukan pengolahan. Misalnya menjadi abon ikan, yang kemudian dikemas Kualitas rasa dan kemasan akan difasilitasi hingga sesuai SNI Lalu untuk garam, terdapat 9.000 hektar potensi tambak garam. Yang baru dioptimalkan pemanfaatannya hanya 2.300 hektar. Untuk melakukan industrialisasi garam ini, terlebih dahulu dilakukan peningkatan kuantitas dan kualitas produksi. Rencana produksi garam tahun ini mencapai 185.000 ton yang didukung APBD dan APBN Teknologi produksi garam yang akan diterapkan adalah sistim gio isolator. Dimana tahapan produksi di tambak dibagi menjadi tiga. Pertama, disediakannya lahan tandon untuk menampung air laut sebelum menjadi garam. Kedua didesain lahan ulir (zig-zag) untuk pengendapan zat-zat lain yang ikut tercampur di air laut. Ketiga, tahap terakhir di mana lahan produksi garam di lapisi gio isolator untuk mempercepat proses menjadi garam dan meningkatkan kualitas garam yang dihasilkan.
“Dengan teknologi ini, target minimal NACLnya menjadi 90 persen. Sebelumnya 80-an persen,” jelas L. Hamdi perioritas lainnya adalah produksi terasi. Dimana, hasil ikan cukup melimpah. Sayangnya, tidak diikuti dengan produksi turunan yang juga melimpah. Dalam hal ini, kepala dinas menginginkan produksi terasi dapat ditingkatkan di tengah tingginya permintaan yang tidak sebanding dengan produksi dalam daerah. Akibatnya, tak jarang terasi dari luar yang masuk untuk mengisi kebutuhan dimaksud.

DiNTB telah beroperasi Bali Seafood Indonesia (BSD. Perusahaan pemilet ikan-ikan ekspor hasil tangkapan. Diantaranya, tuna, kakap, krapu. Sebab yang diambil hanya daging intinya, es. “Kepala-kepala ikan ini bisa dijadikan terasi. Sebelumnya, hanya mengandalkan udang jadi bahan baku terasi,” katanya. Ada tiga sentra produksi terasi yang akan difasilitasi kemudahan bahan bakunya. Di Sumbawa, di Dompu dan di Jerowaru Lombok Timur. Dengan memfasilitasi kemudahan mendapatkan bahan baku, diharapkan kebutuhan terasi berkualitas

di dalam daerah dapat dipenuhi secara mandiri. (bul).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »